KEVIN Z.
MAXIME LIU
“Somewhere between the timeless elegance of classical art and the boundless depths of abstraction, there he stands.”
LITTLE
DETAIL

DISCLAIMER
Due to @X's new rules and policy, I would like to announce that the writer of this account and all the activities here are not affiliated with the real SOOBIN from TXT or HYBE Ent. This account is strictly made for roleplayer purpose only.

WRITERS NOTE
| “...” / ... | : in character. |
| :/ …… | : out of character. |
| SHIN. | : writer’s talk. |

GET TO KNOW
KEVIN
| Name | Kevin Zachary Maxime Liu |
| Nickname | Kevin. |
| Nationality | Singaporean - Indonesian |
| DOB | December 5th, 2001 |
| MBTI | ISFP |
| Job | Tattoo Artist, Model. |
Kevin selalu percaya bahwa keindahan tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya berpindah bentuk—dari kanvas tua ke kulit manusia, dari pahatan yang dimakan usia ke ruang-ruang kecil tempat orang asing bertemu dan meninggalkan sebagian cerita mereka.Berdarah Indonesian-Singaporean dan kini menetap di Jakarta, Kevin tumbuh dalam lingkungan keluarga terdidik yang mengajarkannya untuk menghargai pengetahuan, ketelitian, dan warisan masa lalu. Ia meraih gelar sarjana bisnis, sebuah bekal yang memberinya pemahaman tentang angka dan strategi, meski hatinya perlahan membawanya ke arah yang berbeda.Kecintaannya pada seni tumbuh dari sang nenek, perempuan yang memperkenalkannya pada keindahan yang tak lekang oleh zaman. Mengikuti jejaknya, Kevin kini menekuni dunia kurasi seni, mempelajari sejarah di balik setiap karya dan mencari makna yang kerap luput dari pandangan orang lain.
Di luar ruang pamer, wajahnya sesekali menghiasi kampanye mode dan editorial majalah. Sebagai model, Kevin memahami bagaimana tubuh, cahaya, dan ekspresi dapat menjadi medium bercerita. Namun, baginya, berdiri di depan kamera hanyalah satu cara untuk mengenal seni dari sisi yang berbeda. Ia lebih menyukai proses di balik layar, ketika sebuah gagasan perlahan menemukan bentuknya.Kini, ia tengah merintis mimpi yang ingin ia bangun dengan tangannya sendiri: sebuah studio tattoo yang kelak menjadi ruang pertemuan bagi seni, percakapan, dan manusia dengan kisahnya masing-masing. Ia membayangkan tempat yang tidak sekadar menjual jasa, melainkan menawarkan pengalaman—sesuatu yang terasa personal, intim, dan bertahan lebih lama daripada kesan pertama.Namun, membangun sesuatu yang ideal di kota seperti Jakarta bukan perkara sederhana. Di antara tenggat pemotretan, proyek kurasi, dan persiapan bisnis yang tak kunjung usai, Kevin mulai menyadari bahwa selera yang baik tidak selalu berjalan beriringan dengan kenyataan. Ada kompromi yang harus dihadapi, ada ekspektasi yang perlu dipatahkan, dan ada bagian dari dirinya yang belum benar-benar ia pahami.Barangkali, seperti karya klasik yang begitu ia cintai, hidup pun membutuhkan waktu untuk menemukan maknanya. Dan untuk pertama kalinya, Kevin tidak sepenuhnya yakin apakah ia sedang menciptakan sesuatu yang baru—atau sekadar berusaha memenuhi gambaran sempurna yang selama ini ia bangun tentang dirinya sendiri.
KEVIN’S
JOURNEY


Accustomed to carrying his burdens in silence, Kevin rarely reaches out for help, always believing he can find his own way through whatever life places before him. Yet, no matter how demanding his days become or how far his ambitions take him, he will always find his way back to the people he calls home, for some things in life will forever matter more than anything he strives to achieve.
KEVIN'S
HISTORY
LOVE AND AMBITION

Ada sesuatu dalam diri Kevin yang membuatnya terbiasa mengambil alih keadaan. Bukan karena ia selalu merasa paling tahu, melainkan karena sejak awal ia memahami bahwa menjadi anak pertama berarti memiliki tanggung jawab yang sedikit lebih besar dari orang lain. Ia tumbuh sebagai seseorang yang terbiasa berpikir sebelum bertindak, mempertimbangkan banyak hal sebelum mengambil keputusan, dan memastikan bahwa segala sesuatu berada dalam keadaan baik-baik saja. Barangkali itulah yang membuatnya memiliki pembawaan yang tegas. Ia tahu apa yang ia inginkan, tidak mudah goyah oleh pendapat orang lain, dan cukup berani untuk berdiri di belakang setiap keputusan yang telah dibuatnya.Namun, ketegasan itu memiliki pengecualian tersendiri ketika berhadapan dengan adiknya.Bagi Kevin, Raquelle adalah salah satu bagian paling berharga dalam hidupnya. Ada sisi dirinya yang jauh lebih lembut ketika bersama Raraㅡpanggilan manis untuk sang adik, sisi yang mungkin tidak selalu diperlihatkan kepada orang lain. Ia bisa menjadi seseorang yang cukup keras kepala dalam mempertahankan pendapat, tetapi tidak jarang justru menjadi orang yang paling mudah mengalah ketika menyangkut adiknya. Ia memperhatikan hal-hal kecil yang mungkin tidak disadari, mengingat kebiasaan-kebiasaan sederhana, hingga sesekali menanyakan sesuatu yang terdengar sepele hanya untuk memastikan bahwa semuanya baik-baik saja.Kevin bukan tipe kakak yang akan selalu mengucapkan kalimat manis atau menunjukkan kasih sayang secara berlebihan. Ia lebih sering menerjemahkan perasaannya melalui tindakan. Menjemput ketika diperlukan, menawarkan bantuan tanpa diminta, memastikan adiknya tidak pulang terlalu larut, atau sekadar mengingatkan untuk makan di tengah kesibukan. Baginya, perhatian tidak harus selalu hadir dalam bentuk yang besar. Terkadang, cukup dengan mengetahui bahwa adiknya berada dalam keadaan aman sudah menjadi alasan untuk merasa tenang.Sifat protektifnya pun bukan sesuatu yang bisa disembunyikan. Kevin memiliki kecenderungan untuk selalu ingin mengetahui apakah orang-orang yang disayanginya berada di lingkungan yang baik. Terlebih kepada adiknya, ia bisa menjadi cukup cerewet, banyak bertanya, bahkan sedikit sulit diajak berkompromi jika merasa ada sesuatu yang tidak beres. Sesekali, sikapnya mungkin terasa berlebihan, tetapi semuanya berangkat dari satu keinginan sederhana: ia ingin adiknya mendapatkan kehidupan yang baik, kesempatan yang luas, dan pengalaman yang tidak perlu dipenuhi oleh hal-hal yang semestinya bisa ia bantu hindari.Melindungi seseorang bukan berarti harus menentukan seluruh jalan hidupnya. Ia ingin menjadi tempat pulang, bukan seseorang yang membatasi langkah. Ia ingin adiknya tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, berani mengambil keputusan, dan memiliki keberanian untuk mengejar apa pun yang diinginkan.Di luar kehidupannya sebagai seorang kakak, Kevin adalah pribadi dengan ambisi yang tidak pernah benar-benar berhenti berkembang. Ia memiliki rasa ingin tahu yang besar dan ketertarikan yang begitu kuat terhadap dunia kreatif. Baginya, hidup terlalu luas untuk hanya dijalani dengan satu kemungkinan. Ada banyak hal yang ingin dipelajari, dicoba, dan diwujudkan, terutama dalam dua dunia yang telah menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya: seni dan modeling.Seni selalu memiliki tempat tersendiri dalam dirinya. Kevin bukan hanya menyukai keindahan yang tampak di permukaan, tetapi juga segala sesuatu yang tersembunyi di baliknya. Ia bisa menghabiskan waktu cukup lama untuk mengamati sebuah lukisan, memperhatikan komposisi, karakter goresan, permainan warna, hingga sejarah yang menyertainya. Ia menyukai karya-karya klasik dengan segala keanggunan dan cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ada ketenangan tersendiri yang ia temukan ketika berhadapan dengan karya seni, seolah setiap detail memiliki bahasa yang hanya bisa dipahami apabila seseorang bersedia meluangkan waktu untuk benar-benar melihatnya.Ketertarikannya pada seni tidak berhenti sebagai kegemaran pribadi. Kevin memiliki keinginan besar untuk membangun sesuatu yang berarti di dalamnya. Ia ingin terus memperluas pengetahuan, mempertemukan orang-orang dengan karya yang mungkin belum pernah mereka kenal, serta menciptakan ruang yang mampu membuat seni terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia tidak ingin hanya menjadi penikmat atau seseorang yang sekadar memiliki selera artistik. Ia ingin menjadi bagian dari dunia tersebut, meninggalkan jejak melalui gagasan, kurasi, dan berbagai proyek yang kelak dapat ia banggakan.Sementara itu, dunia modeling memberinya ruang yang berbeda untuk mengekspresikan diri. Di hadapan kamera, Kevin menemukan cara lain untuk memahami seni melalui tubuh, ekspresi, gestur, dan bahasa visual. Ia menikmati proses ketika sebuah konsep diterjemahkan menjadi gambar, ketika pencahayaan dan sudut pandang mampu menciptakan cerita tanpa perlu banyak kata. Baginya, modeling bukan sekadar tentang penampilan atau menjadi wajah dari sebuah kampanye. Ada disiplin, kreativitas, dan kemampuan untuk memahami karakter yang harus terus diasah. Ia selalu ingin memberikan sesuatu yang lebih dalam setiap pekerjaan yang dijalaninya, bukan hanya tampil dengan baik, tetapi juga mampu menghadirkan interpretasi yang memiliki identitas.Kevin memiliki standar yang cukup tinggi terhadap dirinya sendiri. Ia tidak terlalu menyukai pekerjaan yang dilakukan setengah hati, dan cenderung memberikan perhatian lebih pada detail-detail yang dianggap orang lain tidak terlalu penting. Ketika memiliki sebuah tujuan, ia akan berusaha mencari jalan untuk mencapainya, bahkan jika itu berarti harus mengorbankan sebagian waktu istirahatnya. Ia menyukai tantangan, menyambut kesempatan baru, dan tidak mudah puas dengan pencapaian yang sudah dimiliki. Ada semacam dorongan dalam dirinya untuk terus bergerak, seolah setiap keberhasilan hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar.Terkadang, ambisinya membuat Kevin terlihat seperti seseorang yang tidak pernah kehabisan energi. Jadwal yang padat, proyek yang datang silih berganti, serta berbagai rencana yang terus ia susun menjadi bagian dari kesehariannya. Namun, di balik semua itu, ia tetap memahami bahwa ada hal-hal yang tidak dapat diukur melalui pencapaian profesional. Ia tahu kapan harus menyisihkan waktu untuk orang-orang terdekatnya, terutama keluarga dan adiknya. Sebesar apa pun keinginannya untuk mencapai sesuatu, ia tidak ingin kesibukan membuatnya kehilangan kesempatan untuk hadir dalam kehidupan orang-orang yang berarti baginya.Pada akhirnya, Kevin adalah perpaduan antara ketegasan dan kelembutan, antara ambisi dan kasih sayang. Ia bisa menjadi seseorang yang sangat serius ketika membicarakan masa depan, tetapi juga menjadi kakak yang tidak segan menunjukkan kekhawatiran hanya karena adiknya belum memberikan kabar. Ia menyukai keindahan yang klasik, tetapi selalu memiliki keinginan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Ia tahu apa yang ingin dikejar, meskipun terkadang masih harus belajar bagaimana menikmati perjalanan menuju ke sana.Mungkin Kevin memang tidak pernah bercita-cita untuk menjalani kehidupan yang sederhana. Ada terlalu banyak hal yang ingin ia capai dan terlalu banyak kemungkinan yang ingin ia jelajahi. Namun, di antara seluruh ambisi yang ia simpan, ada satu hal yang selalu ingin ia pertahankan: menjadi seseorang yang dapat dibanggakan oleh orang-orang yang ia sayangi.Sebab baginya, keberhasilan tidak hanya tentang seberapa jauh seseorang mampu melangkah, tetapi juga tentang siapa saja yang tetap bisa ia genggam tangannya sepanjang perjalanan.
